MAMUJU, Media central news com – Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) Provinsi Sulawesi Barat, H. Hamdani Hamdi, S.IP., M.Si, menilai kebutuhan suplai pangan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi peluang strategis untuk memperkuat ekonomi petani, peternak, serta pelaku usaha pangan lokal di Sulawesi Barat.
Kepala Dinas Pertanian TPHP Sulbar, H. Hamdani Hamdi.
Peluang strategis suplai bahan pangan lokal ke SPPG dalam mendukung Program MBG.
Provinsi Sulawesi Barat, dengan pemantauan di antaranya di Kabupaten Majene dan Polewali Mandar.
Sejak pelaksanaan awal Program Makan Bergizi Gratis.
Karena Program MBG membutuhkan pasokan pangan yang konsisten, berkelanjutan, serta memenuhi standar mutu dan keamanan pangan, sehingga membuka pasar yang relatif stabil bagi petani dan peternak lokal.
Melalui perencanaan produksi yang matang, penguatan kapasitas petani dan peternak, kemitraan berbasis kontrak usaha, serta penguatan distribusi dan kelembagaan usaha.
Menurut Hamdani, SPPG berpotensi menjadi pasar penyangga bagi produk pertanian dan peternakan lokal apabila kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pasokan dapat dijaga secara konsisten.
“SPPG dapat menjadi pasar penyangga bagi petani dan peternak, selama kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pasokan mampu dijaga,” ujarnya.
Pisang Jadi Contoh Peluang Hortikultura
Berdasarkan data MBG Sulbar, jumlah penerima manfaat saat ini mencapai sekitar 260.000 orang. Jika setiap penerima mendapatkan satu buah pisang per hari, maka kebutuhan pisang mencapai sekitar 260.000 buah per hari atau setara 6.500–7.430 tandan per hari.
Dalam skala bulanan, kebutuhan tersebut diperkirakan mencapai 195.000 hingga 223.000 tandan pisang, yang menunjukkan besarnya peluang sektor hortikultura lokal sebagai penopang utama Program MBG.
Namun demikian, Hamdani menegaskan perlunya perencanaan tanam terukur, pengaturan siklus panen, serta penguatan sistem distribusi agar pasokan tetap stabil sepanjang tahun.
Tahu dan Tempe Perkuat Protein Lokal
Selain hortikultura, komoditas tahu dan tempe berbasis kedelai juga dinilai strategis untuk memenuhi kebutuhan protein nabati MBG. Dengan asumsi konsumsi 50 gram per penerima per hari, kebutuhan tahu dan tempe diperkirakan mencapai 13 ton per hari atau lebih dari 390 ton per bulan.
Menurut Hamdani, peluang ini dapat menggerakkan UMKM dan industri rumah tangga pengrajin tahu-tempe, sekaligus memperkuat hilirisasi pertanian.
“Tahu dan tempe bukan hanya sumber protein terjangkau, tetapi juga bisa diproduksi oleh pelaku usaha lokal. Dengan kemitraan yang jelas, ini bisa membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” jelasnya.
Respons Kenaikan Harga
Pemantauan di sejumlah daerah seperti Majene dan Polewali Mandar menunjukkan kenaikan harga beberapa komoditas pangan, di antaranya ayam potong, telur, cabai, dan rempah-rempah. Kenaikan tersebut diduga berkaitan dengan meningkatnya serapan kebutuhan SPPG pada tahap awal pelaksanaan MBG.
Menanggapi hal itu, Dinas Pertanian TPHP Sulbar menegaskan bahwa langkah yang ditempuh bukan pembatasan suplai, melainkan peningkatan kapasitas produksi, penguatan kelompok tani dan koperasi, serta pengembangan kemitraan usaha.
Dengan pengelolaan berbasis data dan kemitraan yang inklusif, Program MBG diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal sektor pertanian, peternakan, dan industri pangan rakyat di Sulawesi Barat. (**)
Laporan: Abd. Rahman As’ad












